Atresia Biliar

Atresia biliar adalah salah satu penyakit hati serius pada bayi yang masih sering terlambat dikenali. Padahal deteksi dan penanganan sejak dini sangat menentukan kualitas hidup anak ke depannya.

Apa itu atresia biliar?

Atresia biliar adalah kondisi ketika saluran empedu bayi tidak terbentuk sempurna atau tersumbat. Akibatnya cairan empedu tidak bisa mengalir dari hati ke usus.

Empedu yang tertahan akan menumpuk di hati dan menimbulkan peradangan. Bila tidak ditangani, kerusakan hati terus berlanjut hingga sirosis. Kondisi ini biasanya muncul di usia 2 sampai 8 minggu dan menjadi salah satu penyebab utama gagal hati pada bayi.

Tanda yang perlu diwaspadai

Gejala awal atresia biliar mirip dengan kuning biasa pada bayi baru lahir, sehingga sering terlewat. Perhatikan tanda berikut:

  • Kulit dan mata bayi tetap kuning setelah usia 14 hari
  • Feses berwarna pucat, putih keabu-abuan, atau seperti dempul
  • Urine berwarna kuning pekat
  • Perut tampak membesar
  • Berat badan sulit naik
  • Bayi tampak lemas atau lebih rewel dari biasanya

Apa penyebabnya?

Sampai sekarang penyebab pasti atresia biliar belum diketahui. Beberapa faktor yang masih diteliti antara lain gangguan perkembangan saat kehamilan, reaksi autoimun setelah lahir, dan infeksi virus tertentu.

Yang perlu ditegaskan, atresia biliar bukan disebabkan oleh kesalahan orang tua.

Bisakah dicegah?

Saat ini atresia biliar belum bisa dicegah. Karena itu yang paling penting adalah deteksi dini:

  • Perhatikan warna feses bayi setiap hari
  • Jangan anggap biasa kuning yang bertahan lebih dari dua minggu
  • Segera periksakan ke dokter bila curiga ada gangguan hati

Beberapa negara sudah memakai kartu warna feses untuk membantu orang tua mengenali feses yang pucat sejak awal.

Pilihan penanganan

  1. Operasi Kasai (portoenterostomi). Ini biasanya operasi pertama, idealnya dilakukan sebelum bayi berusia 60 hari, untuk membuat jalur baru aliran empedu. Semakin cepat operasi dilakukan, hasilnya cenderung semakin baik.
  2. Perawatan medis lanjutan, meliputi obat pendukung fungsi hati, vitamin larut lemak (A, D, E, K), nutrisi khusus, dan pemantauan rutin oleh dokter spesialis.
  3. Transplantasi hati, sebagai pilihan jangka panjang bila operasi Kasai kurang berhasil atau kerusakan hati terus berlanjut.

Orang tua tidak sendirian

Merawat anak dengan penyakit hati kronis bisa sangat melelahkan. Dukungan dari sesama orang tua sangat membantu. Salah satunya komunitas Pejuang Hati dari Yayasan Rumah Satu Hati, yang memberi edukasi dan dukungan emosional bagi keluarga anak dengan penyakit hati kronis.

Bila anak Anda membutuhkan penanganan lanjutan seperti transplantasi hati di luar negeri, tim Eagle Go siap membantu mencarikan rumah sakit yang berpengalaman menangani pasien anak.

Artikel ini untuk edukasi kesehatan dan tidak menggantikan konsultasi dengan dokter. Keputusan pengobatan tetap diambil bersama tim medis yang menangani.